Gantikan Wuhan, WHO Sebut Indonesia Bisa Jadi Pusat Corona Di Dunia, Kenapa?

Seperti yang kita ketahui, virus corona bermula dari kota Wuhan di China.

Sumber awal mengatakan bahwa pasar hewan liar yang berada di sana jadi penyebab munculnya wabah yang telah menewaskan banyak orang dari seluruh dunia.

Sejak virus corona pertama mewabah tak terkontrol di China, pemerintah langsung menerapkan lockdown untuk Wuhan guna menghentikan persebaran virus corona.

Tak lama setelah itu, banyak negara lainnya yang turut mengonfirmasi adanya kasus virus corona yang menjangkit warganya.

Sponsored Ad

Namun setelah 2 bulan memberlakukan lockdown, Wuhan melaporkan tidak ada kasus baru di sana.

Pada tanggal 8 April pun mereka membuka akses kota yang disambut suka ria oleh banyak orang.

Beberapa rumah sakit darurat yang dibangun guna mengatasi pasien corona pun ditutup.

Tapi negara lain di dunia masih berjibaku dengan wabah ini, termasuk Indonesia.

Malah kini Asia Tenggara disebut berpeluang menjadi episenter baru pandemi corona atau Covid-19 jika wabah tidak terkontrol.

Sponsored Ad

Saat ini, Amerika dan Eropa masih menjadi pusat penyebaran corona di dunia setelah China yang perlahan mulai berkurang.

Dilansir dari Tribun News, Regional Director WHO kawasan Asia Tenggara telah mengeluarkan sebuah media briefing sebagai peringatan dan saran kehati-hatian untuk negara di Asia Tenggara.

Senior Advisor on Gender and Youth to the WHO DG, Diah Saminarsih, menyampaikan bahwa potensi pergeseran gelombang episenter wabah ke wilayah Asia Tenggara ini bisa jadi sangat besar jika tidak terkontrol dari sekarang.

Sponsored Ad

Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara.

Selain itu, India di Asia Selatan juga disorot WHO sebagai negara yang padat penduduk.

"Indonesia dan India, apabila epidemi tidak terkontrol di dua negara tersebut, maka kawasan Asia Tenggara menjadi episenter baru (Covid-19) di dunia," kata Diah dalam diskusi daring bertajuk "Hari Kesehatan Dunia 2020: Aksi Nyata Masyarakat Sipil di Masa Pandemi", Kamis (9/4/2020).

Saat ini, episenter ada di Amerika dan Eropa. Di Amerika Serikat, angka kematian bahkan bisa mencapai sekitar 1.000 kematian per hari.

Sponsored Ad

"Kita tentu ingin menghindari ini terjadi di kawasan Asia Tenggara, termasuk menghindari ini terjadi di Indonesia," ujar dia.

Oleh sebab itu, Diah berujar Indonesia sebagai negara yang "terlambat" terinfeksi virus corona bisa mengambil pelajaran akan hal-hal yang dilakukan di negara lain.

Sponsored Ad

Termasuk rekomendasi kebijakan dan antisipasi kesehatan, untuk mencegah Indonesia menjadi episenter baru virus corona.

Masyarakat bisa menanggulangi kemungkinan ini dengan mengurangi aktivitas di luar rumah jika tidak berkepentingan.

Apalagi kini beberapa daerah di Indonesia sudah menerapkan PSBB sebagai langkah social distancing.

Seluruh masyarakat yang mau keluar rumah juga diwajibkan memakai masker kain untuk mengurangi penularan.

Seperti yang kita tahu, selain PDP dan ODP, kini ada lagi OTG atau Orang Tanpa Gejala yang bisa saja membawa virus corona tanpa sepengetahuan siapapun karena ia tidak menunjukkan gejala Covid-19.

OTG bisa saja menularkan Covid-19 kepada mereka yang daya tahan tubuhnya lemah.

Maka dari itu, yuk, kita di rumah saja guna karena selain bisa menghentikan laju penularan, kita juga sama saja membantu tenaga medis untuk mengurangi jumlah pasien yang terus bertambah.

Sumber: Fame

Kamu Mungkin Suka