Apa Kamu Masih Mau Jadi "Ibu Rumah Tangga"? Faktanya, "Realita" Itu Kejam!

Ini adalah sebuah kisah tentang seorang pria paruh baya yang sudah bercerai. Beberapa pria akan bahagia setelah bercerai, namun tidak dengan pria ini.

Pria ini berkata bahwa dia sangat menyesal akan perceraiannya, tapi ketika dia memikirkan kembali waktu dia belum bercerai, dia tidak ingin balik ke masa itu. Ia ingin pelan-pelan melewati semuanya dan berhenti memikirkannya.

Sponsored Ad

Dia bercerita, setelah dia menikah dan punya anak, istrinya jadi ibu rumah tangga. Dia bekerja keras di luar untuk menghidupi keluarganya. Sejak saat itu, dia mulai menanggung beban ekonomi keluarga. Tidak hanya harus menghidupi anak dan istri, tapi juga kedua orang tua dari kedua belah pihak.

Sponsored Ad

Situasi keluarga seperti bukan cuma keluarganya saja, banyak keluarga yang juga seperti ini. Istrinya harus mengurus semua kebutuhan rumah tanpa pemasukan, tapi banyak hal sepele juga butuh kekuatan hati dan fisik. Dan meskipun suami cuma bekerja di luar, tapi dia juga harus menghadapi tekanan yang ada dalam kehidupan dan kerja. Satu hal yang ditakuti pria sepulang kerja adalah harus menghadapi keluhan sepele dari istri. Setiap pasangan pasti punya masalahnya masing-masing, kalau tidak kuat, bisa saja mereka mulai acuh terhadap satu sama lain dan mengeluh. Lama-lama komunikasi di antara keduanya akan menghilang, sulit berkomunikasi dan bahkan selalu bertengkar.

Sponsored Ad

Dan alasan perceraian dari pria ini karena istrinya tidak bekerja dalam waktu lama dan akhirnya tidak lagi bergaul dengan dunia luar. Mereka berdua tidak mampu mengobrol bersama, istrinya tidak dapat memahami mengapa suaminya lembur, sering bersosialisasi di luar, melakukan perjalanan bisnis dan lain-lain.

Sponsored Ad

Sebaliknya, istrinya malah mencurigai suaminya bermain di belakang. Semakin bertambah banyaknya keadaan seperti ini, pria kehabisan kesabaran dengan istrinya. Tidak ada yang mau mengalah dan menjelaskan duluan. Perang dingin terjadi dan berujung pada perceraian.

Ketika pria memikirkan pernikahannya, ia benar-benar merasa menyesal. Bagaimanapun istrinya mengorbankan dirinya untuk menjadi ibu rumah tangga demi keluarga, meskipun setiap hari di rumah. Tapi, mengatur hal besar dan kecil di rumah itu tidak bisa disamakan dengan bekerja di luar. Dan pria ini merasa bahwa dia kurang memperhatikan istrinya, tapi malah mengeluhkan istrinya yang tidak bisa mengerti dirinya, membuat sang istri kehilangan rasa amannya.

Sponsored Ad

Pria ini berkata bahwa kalau ia bisa kembali ke masa lalu, ia akan membiarkan istrinya melakukan pekerjaan yang ia sukai. Dengan begitu, istrinya tidak akan kehilangan kepercayaan dirinya dan merasa bahwa dirinya berharga di mata masyarakat. Dengan hobimu, kamu gak akan menyia-nyiakan dirimu.

Banyak pria akan mengatakan pada wanita sebelum menikah bahwa mereka boleh melakukan segala hal tanpa pria di masa depan dan tugas pria adalah menghidupinya. Ini sangat hangat, tapi kenyataannya kejam. Pria itu berkata bahwa mereka tidak masalah jika istrinya tidak bekerja, tapi itu sekedar omongan saja. Seiring berjalannya waktu, itu akan berubah jadi tidak peduli, pria dan wanita jadi tidak setara.

Sponsored Ad

Sebagai wanita, kamu harus mencintai dirimu sendiri dahulu. Kalau kamu langsung menikah dan menyerahkan hidupmu untuk keluarga sehingga kamu kehilangan jati dirimu sendiri, pria akan merasa bahwa inilah yang harus kamu lakukan, gak cuma gak akan menghargaimu, tapi juga tidak akan mendengarkan pendapatmu.

Dan yang pria butuhkan bukanlah wanita yang merendahkan dirinya untuk mengurus keluarga. Yang pria butuhkan adalah seorang wanita yang bisa diajak berbicara dan memberikan idenya.

Sponsored Ad

Bagaimana cara menjadi ibu rumah tangga yang selalu bahagia? Dalam kehidupan, kita juga bertemu wanita yang harus mengurus rumah dan bekerja, mereka harus bekerja di pagi hari dan mengurus anak di malam hari. Setiap hari sibuk dan melelahkan. Tapi, jika kamu menyuruh mereka untuk berhenti kerja dan mengurus anak-anak, mereka gak akan mau.

Kalau kamu pernah merasakan dan mengalaminya, kamu pasti tahu seberapa pentingnya kemandirian ekonomi bagi wanita. Jika kamu membiarkan wanita untuk melihat wajah suaminya dan meminta uang, mereka pasti akan lebih memilih bekerja keras dikit untuk menghasilkan uang. Hidup akan lebih mudah jika punya pemasukkan sendiri.

Sponsored Ad

Pilihan antara keluarga dan karir adalah dilema bagi wanita. Jika kamu memilih bekerja, kamu tidak akan memiliki energi yang cukup untuk mengurus keluarga. Kalau kamu memilih mengurus keluarga, kamu akan terpisah dari masyarakat. Apakah pria akan keberatan dengan wanita yang tidak memiliki pekerjaan? Yang harus dilihat adalah pria seperti apakah dia?

Jika seorang wanita menikah dengan pria yang tepat, meskipun dia tidak harus bekerja, merek juga bisa rukun dengan suaminya, suami juga akan rela merawat istrinya, memuaskan istrinya dan selalu memberikan yang terbaik untuk istrinya.

Jika wanita menikah dengan orang yang salah, orang yang tidak memedulikan pekerjaan rumah tanggamu, akhirnya cuma bisa bercerai.

Sumber: fun01