Polisi di Tiongkok Ini Dijuluki "Berhati Mulia"! Kisahnya Bikin Air Mata Menetes!

Di Wenzhou, Tiongkok, ada seorang polisi bernama Zhou Yue-nan. Beliau dijuluki berhati mulia atas apa yang telah dilakukannya. Bahkan, ceritanya diangkat menjadi film yang berjudul Janji Terindah.


33 tahun yang lalu, teman seperjuangan Zhou, Chen Yun-sheng, gugur dalam bertugas. Mereka pernah berjanji, jika salah satu di antara mereka gugur, yang masih hidup harus menggantikan teman mereka untuk berbakti kepada orang tua mereka yang telah gugur.

Sponsored Ad


Selama 33 tahun terakhir, Zhou menepati janjinya untuk merawat orang tua Chen. Setelah keluar dari militer, Zhou bekerja sebagai seorang polisi, juga "anak" bagi orang tua Chen.

Sponsored Ad

Ketika Chen pergi, 3 orang teman baik, termasuk Zhou, datang ke rumah orang tua Chen dan bersujud, "Ayah, ibu, Chen gugur demi negara. Kami datang untuk berbakti padamu! Kami semua adalah anakmu!" Orang tua Chen pun tak kuasa menahan air mata, "Anak kita sudah pulang!"

Ketika ditanya apa yang berubah selama 33 tahun terakhir ini, Zhou menjawab tidak ada. Jika ada, paling hanya yang tadinya cuma beberapa orang anak saja (mereka bertiga), menjadi beberapa puluh. Semuanya berkumpul dan saling memberi kehangatan.

Sponsored Ad

Tadinya Zhou hendak diangkat sebagai panglima militer, tapi ia mengundurkan diri dan kembali ke desa atas dasar ingin menjaga orang tua Chen sebagaimana janjinya.

Sebagai gantinya, Zhou menjadi seorang polisi menjaga keamanan publik. Tidak peduli sesibuk apapun, ia selalu menyempatkan diri dengan teman-temannya untuk pulang mengunjungi orang tua Chen.

Sponsored Ad

Orang tua Chen tinggal di atas gunung. Zhou harus berjalan 3 jam lebih menaiki gunung untuk bisa sampai ke rumah.

Setiap kali berkunjung, mereka selalu membawa keperluan yang mungkin dibutuhkan oleh orang tua, misalnya baju dingin, persediaan makanan, dan lain sebagainya. Mereka juga sampai membelikan TV baru dan membetulkan rumah mereka karena sudah terlalu tua.

Sponsored Ad

Sebelum turun gunung, Zhou selalu memberikan uang 200 yuan (400 ribu Rupiah) kepada orang tua Chen. Walau tidak banyak, tapi orang tua Chen sudah sangat berterima kasih.

Zhou dan teman-temannya rutin mengunjungi orang tua Chen setiap kali ada hari raya atau hari libur.

Sayangnya, tahun demi tahun, kondisi kedua orang tua juga semakin menurun. Zhou pun jadi makin sering pulang.

Sponsored Ad

Tahun 2008 silam, ayah Chen wafat karena kondisi yang dideritanya. Zhou bela-belain cuti untuk pulang ke rumah mengurusi pemakamannya dan memberikan penghormatan terakhir.

Sebagai "anak", Zhou merasa ia memiliki tanggung jawab yang besar. Ia pun memutuskan untuk membawa sang ibu turun gunung dan mencarikan rumah baru untuknya.  

Sponsored Ad

Zhou kemudian mendirikan sebuah rumah 2 tingkat untuk sang ibu. Semua kebutuhan ada di dalam rumah. Zhou bahkan juga membelikan ibu sebuah ponsel supaya bisa saling berhubungan. Tak lupa Zhou mengajarkan kepada ibu bagaimana cara memakainya.

Sponsored Ad

Pernah sekali tangan sang ibu terluka saat memasak. Zhou pun datang membawakan remedi dan tidak mau pergi sebelum memastikan sang ibu sudah memakainya. Pernah juga sekali Zhou telepon ibu tapi tidak diangkat-angkat. Ia langsung khawatir dan langsung bergegas pulang. Untungnya sang ibu tidak apa-apa, cuma lagi sibuk di dapur dan tidak mendengar suara telepon berbunyi.

Begitulah selama 33 tahun, Zhou terus menjaga dan merawat kedua orang tua yang bukan orang tua kandungnya.

Sponsored Ad

Bukan cuma itu, Zhou juga merogoh uangnya sendiri untuk mendirikan yayasan untuk menolong para orang tua yang anaknya gugur dalam bertugas.

Perbuatan mulia ini akhirnya diberitakan dan digarap menjadi film. Zhou juga diberi penghargaan sebagai orang yang paling berpengaruh di Wenzhou.

Ini baru pahlawan yang sesungguhnya! Semoga kisah Zhou menginspirasi kita untuk semakin berbakti kepada orang tua kita!

Yuk like dan share kisah mengharukan ini!

Sumber: lookingforward